Pendekatan Issue Centered Studying Tingkatkan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan merupakan ujung tombak dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang andal. Karena pendidikan diyakini dapat mendorong memaksimalkan potensi siswa sebagai calon sumber daya manusia yang andal untuk dapat bersikap kritis, logis dan inovatif dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahan.

Perhatian pemerintah kepada dunia pendidikan sangat besar terbukti dengan anggaran 20 persen dari APBN dan juga adanya tunjangan sertifikasi expert. Semua itu bertujuan peningkatan sumber daya komponen pendidikan dengan harapan menjadikan generasi emas untuk masa yang akan datang dengan dibangun kerangka yang jelas.

Pada masa lampau ataupun sekarang masih banyak masyarakat kita ataupun malah kita, fokus kepada anak sekolah yang mendapatkan raport atau ijazah tanpa memikirkan kualitas. Bahkan sekolah lebih mengedepankan kepada angka-angka atau nilai yang tertulis dan hanya menuntaskan materi kurikulum sehingga mutu sekolah terabaikan. Sehingga kita harus segera memikirkan cara meningkatkan sumber daya manusia agar tujuan pendidikan nasional itu tercapai.

Dalam proses pembelajaran timbul paradigma lama yang sering kali menganggap peserta didik itu seperti gelas kosong yang diisi air dari guru tanpa memandang bahwa peserta didik mempunyai pengetahuan dan pengalaman. Sehingga dalam proses pembelajaran peserta didik cuma duduk dengar diam dengkur.

Dikarenakan guru menggunakan metode ceramah sehingga proses pembelajaran cuma mentransfer ilmu dari seorang expert ke siswa dan siswa pun pasif.

Pendidikan agama Islam mempunyai peranan penting. Karena pendidikan agama Islam memfokuskan kepada pendidikan pribadi yang cerdas berakhlak dan mempunyai karakter.

Permasalahan pada dunia pendidikan adalah kurangnya implementasi metode pembelajaran inovatif yang diterapkan sehingga masih memakai paradigma lama bahwa pembelajaran itu berpusat pada sosok guru. Dan tentu saja peserta didik kurang kreatif, kritis dalam memahami materi apalagi diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga menuntut solusi untuk mengubah sistem mengajar yang masih berpusat dan didominasi oleh guru. Salah satu metode yang cocok dalam pelajaran pendidikan agama Islam adalah dengan metode pendekatan difficulty-centered discovering dengan tujuan agar peserta didik lebih kreatif kritis dalam memahami materi dan dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Itu penulis coba terapkan di SMPN 1 Pringsurat, Kabupaten Temanggung.

Meski peserta didik sudah mendapatkan pembelajaran di sekolah, namun di lapangan setelah berhadapan dengan problematika dalam kehidupan masyarakat mereka tidak mampu memecahkan. Bahkan mengaplikasikannya juga tidak mampu.

Pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik lalu dengan terciptanya suasana kelas dalam pembelajaran itu menyenangkan hal itu akan meningkatkan prestasi siswa. Karena peserta didik tidak mempunyai beban dalam pembelajaran itu. Sehingga bisa mengungkapkan atau mengekspesikan semuanya.

Difficulty primarily based studying adalah proses pembelajaran untuk menemukan solusi dilandasi masalah kehidupan sehari-hari agar pembelajaran lebih menarik dan bermakna (Huda, Mulyono, & Rosyida, 2019).

Pembelajaran trouble based mostly finding out memiliki tahap tahap: mengorientasikan peserta didik kepada masalah, mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, membimbing penyelidikan secara individu atau kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya serta menganalisis. Kemudian mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Setelah diterapkan pembelajaran issue primarily based understanding di SMP Negeri 1 Pringsurat diharapkan dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam belajar efektif dan kreatif. Dimana peserta didik dapat membangun sendiri pengetahuannya, menemukan pengetahuan dan keterampilannya sendiri melalui proses bertanya, mencari, kerja kelompok, belajar dari product yang sebenarnya. Bisa merefleksikan yang diperolehnya antara harapan dengan kenyataan. Sehingga peningkatan hasil belajar yang didapat bukan sekadar hasil menghapal materi belaka. Tetapi lebih pada kegiatan nyata (pemecahan kasus-kasus) yang dikerjakan peserta didik pada saat melakukan proses pembelajaran (diskusi kelompok dan diskusi kelas). Sehingga lebih bisa diaplikasikan dalam kehidupan ini baik di keluarga, masyarakat atau lebih luas untuk bangsa Indonesia tercinta. (mn/lis)

Guru Pendidikan Agama Islam SMPN 1 Pringsurat, Kabupaten Temanggung